Thursday, November 22, 2012

Pelinggih / Sanggah Yang ada di Natah / Halaman Pekarangan

Kadang-kadang terlintas kebingungan ketika sembahyang di pelinggih yang di natah/halaman rumah ketika hendak memulai aktifitas. Bingung yang bersumber dari ketidaktahuan.

Ketika menghadap Tuhan lewat persembahyangan di natah / halaman pekarangan, Belau disini dimohonkan fungsi sebagai apa?, sehingga dibuat tempat dalam wujud pelinggih.

Pelinggih di natah / halaman pekarangan rumah di  Bali selatan kebanyakan disebut dengan sanggah pengijeng, tetapi sahabat dari Tabanan mengatakan bahwa palinggih tersebut didaerahnya disebut taksu  sama seperti nama pelinggih yang ada didekat pelinggih kemulan yaitu yang lazim disebut  pelingguh taksu yang ber- rong dua. Kadang terbersit pertanyaan apakah sama fungsinya dengan Tugu Penunggun Karang? bukankah pengijeng dengan penunggu karang berkonotasi sama, kalau sama kenapa mesti membuat dua pelinggih?

Tapi ada juga yang menyebutkan pelinggih tersebut dengan sanggah surya/ pelinggih surya? maka timbul kebingungan lagi, kalau pelinggih surya/sumber cahaya/matahari kenapa setiap odalan di sanggah atau merajan mesti membuat sanggah surya lagi yang ditempatkan di pojok Timur laut bukankah ini akan menjadi  double/ganda.

Ada juga yang memberi tahu jika ingin kehidupan dengan rejeki lebih baik, rajin-rajinlah sembahyang di palinggih yang ada di natah ini atau yang lebih dikenal dengan sebutan sanggah pengijeng ini.

Akhirnya Tuhan dengan caranya memberitahukan bahwa pelinggih tersebut tempat berstananya Dewi Saraswati (Sang Hyang Aji Saraswati) dengan posisi duduk di atas bunga padma lengkap dengan atributnya.

Terus apa hubungannya pangijeng/penjaga, surya, dan kehidupan dengan rejeki yang lebih baik?

Dalam konsepnya pengetahuan difungsikan sebagai penjaga rumah tangga . Dengan pengetahuan maka akan timbul kebijaksanaan dalam mengelola kehidupan rumah tangga yang umumnya terwujud dari pemikiran , perkataan dan tindakan yang selalu mengarah keharmonisan dan kebahagiaan.

Pengetahuan juga dibaratkan surya (sumber cahaya) yang akan selalu menerangi kehidupan berkeluarga. Dengan adanya sumber cahaya akan menjadikan panduan / penuntun arah yang mesti ditempuh sehingga tidak mengalami kebingungan karena kegelapan pikiran. sama halnya pendeta-pendeta di Bali yang sering memberikan pencerahan umatnya sering disebut dengan Surya.

Untuk rejeki yang lebih baik itu sudah pasti adanya, karena Dewi Saraswati merupakan manifestasi Tuhan yang memberikan  Ilmu pengetahuan. Dengan restu Beliau pengetahuan yang dipelajari akan mudah didapatkan sehingga akan meningkatkan  kecerdasan. Orang yang cerdas pasti rejekinya lebih baik, karena biasanya orang-orang yang cerdaslah yang bisa menjadi dokter, pengusaha, insinyur, pilot, pengacara, hakim, menteri, presiden maupun pekerjaan-pekerjaan  lainnya yang notabene berpenghasilan tinggi.

Dengan Sembahyang kehadapan Tuhan dengan Personifikasinya sebagai Sang Hyang Aji Saraswati, Taksu akan selalu menyertai kehidupan.

6 comments:

  1. bila dilihat dari posisi di tengah pekarangan... dari paduraksa, besar kemungkinan itu linggih siwa raksa...
    nike pendapat pribadi tyg he he h ehe

    ReplyDelete
  2. Maaf pak,saya mau bertanya mana yang benar pelinggih surya di natah,yang memakai atap ijuk atau yang tidak memakai atap..tolong dijelaskan karena ada 2 persi dari masing masing keluarga berbeda padahal masih dalam 1 banjar didesa..mohon siapa saja boleh mnjawab..kalau memakai atap ijuk fungsiny apa yg berstana siapa dan kalau yang padmasana tidak beratap fungsinya apa..suksema

    ReplyDelete
  3. Sebenya apa fungsi dari pelinggih surya natah .....
    Suksme.

    ReplyDelete
  4. dan apakah suatu keharusan kita harus ngelinggihang padme yg di sebut org dg pelinggih surya natah.

    ReplyDelete
  5. Napi wastre/pengangge ring pelinggih natah??? 🙏🙏

    ReplyDelete
  6. Tiyang metaken bedik niki dijan pemedalan niki ngenah pelinggih ring natahe

    ReplyDelete