Wednesday, September 19, 2012

Filosofi Gunung dalam Kehidupan


Dipagi dan sore hari adalah saat yang baik untuk melihat gunung, gunung yang jauh akan tampak indah jika dipandangi karena tidak terhalang oleh biasan sinar matahari dan gelapnya malam.

Gunung merupakan salah satu sumber kehidupan, banyak kehidupan yang bergantung padanya. Beraneka jenis flora dan fauna bahkan manusia banyak yang menggantungkan dan menjadikan gunung sebagai tumpuan  hidupnya.

Para pemimpin sering diumpamakan sebagai gunung karena memberikan tempat untuk tumbuh dan berkembangnya kehidupan masyarakat.

Pada tradisi nusantara sering kita jumpai potong tumpeng pada hari ulang tahun seseorang maupun perusahaan. Tumpeng merupakan simbolis dari gunung. Pada tradisi potong tumpeng tersebut, biasanya puncak dari tumpeng diberikan kepada yang berulang tahun maupun pada pimpinan perusahaan jika merupakan ulang tahun perusahaan.  Tentu saja dengan maksud dan pengharapan agar yang berulang tahun ataupun perusahaan dapat mencapai puncak kesuksesan.

Dalam yoga, Gunung terletak dihati. Kenapa dihati, karena tidak ada yang dapat menandingi ketinggian hati dikala sang ego sedang melanda  yang katanya tingginya seperti Gunung Mahameru (Mount everest) yang seakan- akan menjangkau angkasa.

Selain itu, hati yang teguh dalam memegang prinsip  juga dilambangkan seperti gunung yang kokoh yang tidak mudah di belokkan oleh angin maupun hujan badai.

Susah untuk menghancurkan gunung, gunung hanya bisa dihancurkan oleh dirinya sendiri dikala sedang meletus. Layaknya seperti kemarahan yang menghancurkan diri kita sendiri ataupun seorang pemimpin yang hancur oleh tindakannya sendiri dalam memerintah jika pemerintahannya dijalankan dengan kesewenang-wenangan.

Dan banyak orang tua yang menamakan anaknya  gunung terutama dalam Bahasa Kawi/ Jawa Kuno dan Sanskrit seperti nama-nama:  Giri, Wukir/Ukir, Parwatha, Meru, Gunung, dsbnya yang artinya adalah Gunung, dengan maksud agar dapat meniru Gunung dari sisi kesuksesannya.

No comments:

Post a Comment