Thursday, December 6, 2012

Antara Laut, Hati dan Burung Merak

Memandangi laut yang begitu biru, dan burung burung laut mencari ikan disela sela karang yang muncul dipermukaan laut diiringi desiran angin dingin di Bulan Juni.

Hamparan pasir putih ini bagaikan serpihan mutiara yang ditaburkan sebagai alas duduk ketika aku berada disampingmu sambil memandangi anak-anak  yang bermain pasir.

Tadi,  sebelum turun kepantai aku  pandangi laut ini dari atas jembatan yang berada diatas sungai kering tadah hujan yang bermuara ke laut ini sungguh menakjubkan. Pantainya membentuk ceruk menghadap ke Samudra berpagar tebing tebing karang seakan-akan menyembunyikan keindahannya.

Kupandangi ombak yang bergulung kecil menghempaskan kotoran ke pesisir seakan akan tak jemu jemunya menjaga agar laut disini tetap bersih dengan kebeningan airnya.

Laut mulai berbisik, buatlah laut yang bening dihati. Walaupun  hati  tersembunyi karena keindahannya pasti akan selalu dicari,  ketika  kotoran  datang akibat  perubahan emosi hempaskan perlahan agar keindahan hati tetap terjaga.

Ada cerita lain tentang hati dari seorang bijaksana. Pelihara burung Merak dihati karena burung Merak akan memakan ular ular yang bersemayam dihati dan mengubah racun ular menjadi warna yang indah pada bulu burung merak. Laksana Burung merak yang anggun dengan keindahan bulunya begitupula orang yang berwibawa karena keindahan perilakunya.

Memang tidak mudah  dan perlu kesabaran untuk dapat mengubah energi kegelapan  yang berada dihati untuk menjadi energi postif yang bernuansa keindahan. Energi kegelapan yang berasal dari kekacauan hati  dan  pikiran maupun dari lingkungan akibat tekanan hidup, asal ada kemauan dan tindakan  untuk mengubahnya menjadi energi indah pasti dapat dilakukan.

Bermeditasi dihati merupakan jalannya,  dan dalam visual akan menemukan lingga hitam , kumpulan ular, burung merak  dan pada akhirnya akan menemukan didalam lingga hitam jika telah terbuka selubungnya akan menemukan lingga putih bersinar yang merupakan simbol dari kesadaran. Kesadaran (buddha)  selalu berada berada dalam kesucian (Siwa) .  Dalam Siwa terdapat buddha dan pada hakekaknya Kesucian dan kesadaran adalah satu kesatuan. Bhinekka Tunggal Ika (keliatan berbeda tetapi satu) seperti yang dikatakan Maha Guru Mpu Tantular.

No comments:

Post a Comment