Wednesday, December 12, 2012

Sepi Yang Terbungkus Keramaian.

Ternyata kemajuan Zaman tidak dapat menghapus sepi. Sepi selalu tumbuh dan berkembang searah dengan keramaian.Jumlah penduduk yang semakin banyak yang identik dengan semakin ramai, juga berbarengan dengan Semakin banyak menumbuhkan sepi.

Sepi Tumbuh dan berkembang tidak secara terbuka, melainkan tersembunyi di pojok-pojok keramaian, bahkan ada juga yang tersembunyi ditengah keramaian.

Perkembangan pasar modern yang sedemikian pesatnya sebagai pusat keramaian, disisi  lain menciptakan pusat kesunyian bagi warung-warung kecil yang berdampingan dengannya. Dan kadang-kadang warung-warung kecil inipun tergusur kepinggir dan tetap sepi karena telah terjadinya perubahan orientasi belanja konsumen.

Demikian pula City Hotel yang membungkam Home Stay, Pasar Oleh-Oleh yang membungkam warung-warung kerajinan atau Pasar Seni, juga kasus -kasus yang lain yang menunjukkan keramaian dan kesepian bagai dua sisi koin yang selalu berdampingan.

Dalam diri juga sepi sering timbul, ketika masa ceria/senang meramaikan jiwa. Sepi ketika pujaan hati berada jauh, berdampingan dengan rasa cinta yang ada. Semakin besar cintanya, semakin besar rasa sepi yang memicu kerinduan yang membelit. Walaupun banyak teman dan hiburan yang meramaikan tetapi rasa sepi tetap menyelimuti hati.

Para praktisi yoga zaman sekarang tidak lagi menyepi ke gunung ataupun ke hutan untuk mendapatkan ketenangan jiwa. Dalam keramaian kehidupan selalu berusaha menyepikan diri lewat alunan napas yang semakin halus sehingga keheningan pikiran dapat diperoleh.

Sepi memang diperlukan untuk memberikan ruang bagi  jiwa dan badan beristirahat ditengah-tengah hiruk pikuk kehidupan.

No comments:

Post a Comment